Lingkar Studi Islam Psikologi Unnes


Merupakan lembaga Kerohanian Islam yang mengkaji permasalahan psikologi dari perspektif islam di Jurusan Psikologi, Fakultan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang yang Sehat, Unggul, dan sejahtera.

Gedung A1 Lantai 2 Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Kec. Gunungpati Semarang

email : lsipsikologi.unnes@gmail.com
No. HP : 085865091326
News Update :
slider otomatis

Coming Soon, HRD / Personalia Taining

Penulis : Unknown on Minggu, 21 September 2014 | Minggu, September 21, 2014

Minggu, 21 September 2014



Udah mau lulus kuliah?
Udah siap kerja?
yakin udah siap?
temukan jawabanya disini.....!

Coming Soon, 
HRD / Personalia Taining 

Seri 1 : Organizational Strategic
Seri 2 : Performance Management
Seri 3 : Recruitment and Selection
Seri 4 : Training and Development
Seri 5 : Compensation and Benefit

Trainer:
N Kuswandi (Leadership and Management Development Consultant, PT Holcim Indonesia, Tbk (Perusahaan No-18 yang paling dikagumi di Indonesia, versi majalah Forbes); Certified CPHRM dari Lisensi USA; Certified Training & Assessment dari Caraka Buana, Lisensi AUS Certified Facilitator dari DDI lisensi USA;Certified Advent Hypnotherapy dari IBH lisensi USA;Certified Trainer dari Psikologi UI)

contact person
Amin :085865091326
Reni : 089669424321

by : Lingkar Studi Islam Psikologi Unnes
komentar | | Read More...

Mengenal Psikologi Islam

Penulis : maama on Kamis, 18 September 2014 | Kamis, September 18, 2014

Kamis, 18 September 2014


Pengertian Psikologi
Robert S. Wood & D.G Marquis “psikologi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas-aktivitas individu dalam hubungannya dengan lingkungan. J.P.Guilford “Psikologi didefinisikan sebagai ilmu tentang aktivitas mental organism”
 Mempelajari aktivitas jiwa dalam arti luas
 Mempelajari aktifitas jiwa dalam hubungannya dengan lingkungan, merupakan perbuatan-perbuatan (Tingkah laku yang tampak)
 Mempelajari kodrat manusia (human nature) meliputi biologi, psikologi, dll.
komentar (1) | | Read More...

Pentingnya Islamisasi Sains dan Psikologi

Penulis : maama on Sabtu, 13 September 2014 | Sabtu, September 13, 2014

Sabtu, 13 September 2014

Hakekat Ilmu dalam Islam
“barang siapa menghendaki kebahagiaan hidup di dunia, maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan hidup di akherat, maka harus dengan ilmu.  Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan duna dan akherat, maka harus dengan ilmu.” [HR Ath Thabrani]
Ilmu adalah apa yang telah difirmankan Allah SWT, disabdakan oleh Rasul Nya, dan diucapkan oleh para sahabat. Ilmu bukanlah gambaran yang salah. [ibnul qayyim al jauziyah]

Ilmu adalah kunci kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika Nabi Sulaiman a.s diperintahkan oleh Allah untuk memilih salah satu dari tiga perkara: ilmu, harta, dan kekuasaan. Nabi Sulaiman memilih Ilmu. Lalu, Allah menyertakan bersamanya harta dan kekuasaan yang besar. Dalam islam, ilmu adalah jalan untuk memperkuat dan mempertebal keimanan.  Ilmu adalah suatu usaha untuk mendekatkan diri kepada kebenaran, Al Haq, Allah.
komentar | | Read More...

Psikologi Puasa

Penulis : LSI Crew on Senin, 04 Agustus 2014 | Senin, Agustus 04, 2014

Senin, 04 Agustus 2014

Oleh Siti Nuzulia
RAMADAN datang menawarkan berjuta makna, pesona, serta harapan untuk kembali menjadi fitri. Namun tak semua orang bisa menangkap makna dan menikmati pesonanya. Apalagi mencapai tujuan akhir, kembali ke fitrah, menjadi yang terlahir kembali.
Perjuangan berat harus dilampaui. Tak sekadar menahan haus dan lapar, tantangan terberat justru pengendalian diri (untuk mencapai self-improvement) yang merupakan kunci keberhasilan mencapai tujuan saum ramadan.
Ibarat mobil yang penuh lumpur setelah perjalanan panjang, puasa ramadan adalah saat mobil harus dicuci dan diservis ulang. Setelah hampir setahun bergelimang dengan urusan duniawi, kita diberi waktu sebulan penuh untuk instrospeksi, belajar mengendalikan emosi, dan menata ulang diri.
Diungkap oleh Zillman (dalam teori emosi), bila seseorang sedang berada dalam kondisi tidak bisa mengendalikan diri, akan terjadi “pembajakan emosi”. Tubuh akan dikuasai oleh emosi hebat, sehingga sedikit saja distimulasi muncul emosi berikutnya dengan intensitas yang makin tinggi (baca: emosi negatif).
Dalam rangkaian ini, pikiran atau persepsi yang dapat memicu emosi berikutnya merupakan pemicu minor yang mengakibatkan terjadinya peningkatan katekolamin yang dibangkitkan oleh amigdala dalam otak, dan masing-masing berdasarkan peningkatan hormon yang muncul sebelumnya. Peningkatan kedua muncul sebelum yang pertama mereda, dan yang ketiga menumpuk di atasnya, demikian seterusnya. Tiap-tiap gelombang menumpuk di ujung gelombang sebelumnya yang dengan cepat menambah kadar perangsangan fisiologis tubuh. Gelombang emosi negatif akan terus bersambung dan rangkaian panjang ini memicu intensitas emosi yang lebih hebat dari pada emosi pada awal rangkaian. Pada saat itu, emosi sulit dikendalikan oleh nalar, dan dengan mudah meletus menjadi tindak kekerasan. Emosi negatif akan hilang ketika rangkaian panjang gelombang mereda dan terputus.
Puasa ramadan merupakan sebuah upaya untuk memutus rangkaian panjang gelombang emosi negatif.
- - Siti Nuzulia
Emosi yang kuat akan mengacaukan ingatan kerja seseorang (mengingat dan berpikir). Jika emosi negatif berlangsung terus-menerus, kemungkinan akan timbul cacat pada kemampuan intelektual dan melemahkan kemampuan belajar seseorang. Di samping itu, orang yang terus-menerus dilanda emosi negatif berisiko dua kali lipat terserang penyakit, termasuk asma, artritis, sakit kepala, tukak lambung, dan penyakit jantung. Emosi negatif yang berlangsung terus-menerus juga berhubungan dengan sistem kekebalan melalui pengaruh hormon yang dilepaskan apabila seseorang mengalami stres. Katekolamain (adrenalin dan noradrenalin), kortisol, prolaktin, serta betaendorfin dan enkefalin semuanya dilepaskan ketika terjadi rangsangan emosi negatif. Masing-masing mempunyai pengaruh kuat terhadap kekebalan dan stres menekan perlawanan sistem kekebalan.

Memutus Rangkaian

Puasa ramadan merupakan sebuah upaya untuk memutus rangkaian panjang gelombang emosi negatif tersebut. Setelah hampir sebelas bulan otak kita penuh dengan gelombang emosi negatif yang sangat panjang, Ramadan datang dan berperan sebagai pereda, memotong gelombang emosi negatif yang meracuni otak kita. Syarat Ramadan, yang penuh taburan pahala dan pengampunan dosa, dengan menahan diri dari nafsu manusia dan memperbanyak ibadah, membuat kita berlomba-lomba melakukan ritual keagamaan dengan kuantitas dan kualitas yang makin meningkat. Kegiatan ritual serta upaya pengendalian diri berperan penting dalam “mengadu pikiran-pikiran yang memicu lonjakan emosi negatif”. Dengan begitu gelombang emosi negatif yang menumpuk di otak sedikit demi sedikit memendek sampai akhirnya menghilang. Implikasinya, ingatan kerja berjalan normal, pikiran lebih tenang, dan kondisi tubuh lebih sehat.
Selain mampu mengadu pikiran yang dapat memicu lonjakan amarah, rutinitas ritual yang semakin intensif juga melatih kedisiplinan diri. Ia menuntun manusia untuk mengatur waktu hidupnya dengan keseimbangan penuh antara kepentingan akhirat dan duniawi. Ramadan merupakan bulan penggodokan untuk mencetak orang-orang dengan perbuatan baik. Seperti yang dikatakan oleh banyak ahli ilmu perilaku, perbuatan baik akan cenderung menetap pada diri seseorang ketika selama 21 hari dia berhasil mendisiplinkan diri melakukan perbuatan tersebut. Ramadan tidak hanya 21 hari, tapi sebulan penuh. Jika sebulan penuh kita mampu bertahan, niscaya, kita akan terlahir sebagai manusia baru.
Semoga puasa Ramadhan menjadikan peningkatan kualitas kemanusiaan kita, sehingga kita terlahir kembali dan memiliki kekuatan, ketabahan, kesabaran untuk menghadapi tantangan ke depan yang kian berat. Amin.
–Siti Nuzulia, dosen Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang
sumber : http://unnes.ac.id/gagasan/psikologi-puasa/
komentar | | Read More...

Psikologi Islami Menjawab: Apakah itu Manusia

Penulis : LSI Crew on Minggu, 18 Mei 2014 | Minggu, Mei 18, 2014

Minggu, 18 Mei 2014

oleh :Bang Faiy

Filsafat Manusia merupakan induk dari segala cabang ilmusekarang yang ada, salah satunya Psychology berasal dari kata Psyche artinya Jiwa, dan Logy yang memiliki arti Ilmu. Psychology merupakan ilmu jiwa dimana merupakan hasil dari menifestasinya. apakah itu Manusia? Selalu menjadi perbincangan sejak dahulu oleh orang orang filosof dan ilmuwan barat yang berupaya mencari konsep tentang apakah itu Manusia. Namun dalam membangun teori maupun hasil analisa manusia selalu mendapati kecacatan dalam memahaminya. Seperti konsep awal mula manusia menurut Charles Darwin, dimana manusia berasal dari evolusi manusia purba. Dan islam sendiri menyatakan bahwa manusia berasal dari keturunan Nabi Adam AS, yang merupakan manusia seutuhnya. 

Menurut Posmodernisme memandang manusia sebagai alata yang bias diotak-atik seenaknya. Dalam pandangan ilmu-ilmu sosial, Manusia sebagai makhluk yang berada dalam keadaan sekarat dan tinggal menunggu ajal ( man is dead or dying). Ini erat kaitanya dengan teori evolusi “ siapa yang kuat dia yang bertahan hidup”. Saat kita belajar ilmu psikologi, akan adanya berbagai pandangan aliran yang merupakan akar dari filsafat. Menurut Hanna Djumhana, “Sekalipun pendekatan itu bersifat empiris-induktif pasti pada taraf tertentu akan sampai pula pada pertnyaan filosofos Apakah Manusia itu. Penulis meyakini bahwa yang menciptakan manusia lebih tahu tentang apa-apa yang diciptakan, dibandingkan manusia yang hanya sedikit sekali ilmunya, di ibaratkan ilmu Allah berdasar Ayat kauniyah dan kauliyah seluas samudera, sedangkan manusia seperti jari yang dicelupkan dan dingkatlah hingga hanya setetes air. Dengan mengambil konsep manusia menurut Al Quran adalah “basyar, insan, dan dzuriyah”. (1) Basyar dalam Al Qur’an merupakan aspek fisik maupun psikis yang Nampak. (2)  Insan berarti merupakan manusia yang senantiasa tunduk, berbeda dengan hewan dimana aspek kerohanian, perbedaan fisik, keimanan, dan akhlak.(3) Dzuriyah Pembawaan manusia sejak lahir mulia. 

Psikologi mempelajari manusia dalam aspek kejiwaan, penulis sendiri meyakini bahwa seharusnya psikologi lebih mempelajari tentang Hati (Qalb). Jiwa lebih dekat dengan efektif dengan aspek Religius, Journal of Psychiatry and Archieves of General Psychiatry menunjukan bahwa 72% responden terdapat hubungan positif antara komitmen agama dan kesehatan jiwa. Psikologi Klinis menyatakan kesetujuanya bahwa keimanan agama adalah hal yang terpenting dalam mempengaruhi kehidupan mereka (Bergin dan Jensen, 1990).

Memahami Manusia dalam perspektif Al-Quran sebagai berikut:
1) Keberadaan manusia tiada lain  bukanlah hal kebetulan, tetapi segala apa yang ada doi langit dan di bumi merupakan kesengajaan penciptaan dari sang Khalik
2) Allah yang menciptakan manusia pastinya Allah yang lebih tahu karakteristik  sampai kehal paling kecil manusia, dan bagaimana cara manusia bahagia dunia dan akhirat.
3)  Pengetahuan manusia terbatas dan ilmu Allah tiada batas, sehingga informasi menganai pengembangan manusia terdapat dalam Al-Quran yang perlu di gali secara benar.

 “Kami akan memperlihatkan kepada tanda-tanda (kekuasaan ) Allah di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri” (QS. 41:53)


Daftar Pustaka:
Al-Quran
Hawari, Dadang. 2002. “Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi”. Jakarta: UI Press
Sutoyo, Anwar. 2012. “Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an”. Semarang: PPS UNNES
Anchok, Djamaludin& Fuad Nashory. 2011. “Psikologi Islami”. Yogyakarta: Putaka Pelajar  

komentar | | Read More...

kalender

Popular posts

Blogroll

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger