Lingkar Studi Islam Psikologi Unnes


Merupakan lembaga Kerohanian Islam yang mengkaji permasalahan psikologi dari perspektif islam di Jurusan Psikologi, Fakultan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang yang Sehat, Unggul, dan sejahtera.

Gedung A1 Lantai 2 Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Kec. Gunungpati Semarang

email : lsipsikologi.unnes@gmail.com
No. HP : 085865091326
News Update :
slider otomatis

Mengenal Psikologi Islam

Penulis : maama on Kamis, 18 September 2014 | Kamis, September 18, 2014

Kamis, 18 September 2014


Pengertian Psikologi
Robert S. Wood & D.G Marquis “psikologi adalah ilmu yang mempelajari aktivitas-aktivitas individu dalam hubungannya dengan lingkungan. J.P.Guilford “Psikologi didefinisikan sebagai ilmu tentang aktivitas mental organism”
 Mempelajari aktivitas jiwa dalam arti luas
 Mempelajari aktifitas jiwa dalam hubungannya dengan lingkungan, merupakan perbuatan-perbuatan (Tingkah laku yang tampak)
 Mempelajari kodrat manusia (human nature) meliputi biologi, psikologi, dll.
komentar (1) | | Read More...

Pentingnya Islamisasi Sains dan Psikologi

Penulis : maama on Sabtu, 13 September 2014 | Sabtu, September 13, 2014

Sabtu, 13 September 2014

Hakekat Ilmu dalam Islam
“barang siapa menghendaki kebahagiaan hidup di dunia, maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan hidup di akherat, maka harus dengan ilmu.  Dan barang siapa menghendaki kebahagiaan duna dan akherat, maka harus dengan ilmu.” [HR Ath Thabrani]
Ilmu adalah apa yang telah difirmankan Allah SWT, disabdakan oleh Rasul Nya, dan diucapkan oleh para sahabat. Ilmu bukanlah gambaran yang salah. [ibnul qayyim al jauziyah]

Ilmu adalah kunci kebahagiaan yang sesungguhnya. Ketika Nabi Sulaiman a.s diperintahkan oleh Allah untuk memilih salah satu dari tiga perkara: ilmu, harta, dan kekuasaan. Nabi Sulaiman memilih Ilmu. Lalu, Allah menyertakan bersamanya harta dan kekuasaan yang besar. Dalam islam, ilmu adalah jalan untuk memperkuat dan mempertebal keimanan.  Ilmu adalah suatu usaha untuk mendekatkan diri kepada kebenaran, Al Haq, Allah.
komentar | | Read More...

Psikologi Puasa

Penulis : LSI Crew on Senin, 04 Agustus 2014 | Senin, Agustus 04, 2014

Senin, 04 Agustus 2014

Oleh Siti Nuzulia
RAMADAN datang menawarkan berjuta makna, pesona, serta harapan untuk kembali menjadi fitri. Namun tak semua orang bisa menangkap makna dan menikmati pesonanya. Apalagi mencapai tujuan akhir, kembali ke fitrah, menjadi yang terlahir kembali.
Perjuangan berat harus dilampaui. Tak sekadar menahan haus dan lapar, tantangan terberat justru pengendalian diri (untuk mencapai self-improvement) yang merupakan kunci keberhasilan mencapai tujuan saum ramadan.
Ibarat mobil yang penuh lumpur setelah perjalanan panjang, puasa ramadan adalah saat mobil harus dicuci dan diservis ulang. Setelah hampir setahun bergelimang dengan urusan duniawi, kita diberi waktu sebulan penuh untuk instrospeksi, belajar mengendalikan emosi, dan menata ulang diri.
Diungkap oleh Zillman (dalam teori emosi), bila seseorang sedang berada dalam kondisi tidak bisa mengendalikan diri, akan terjadi “pembajakan emosi”. Tubuh akan dikuasai oleh emosi hebat, sehingga sedikit saja distimulasi muncul emosi berikutnya dengan intensitas yang makin tinggi (baca: emosi negatif).
Dalam rangkaian ini, pikiran atau persepsi yang dapat memicu emosi berikutnya merupakan pemicu minor yang mengakibatkan terjadinya peningkatan katekolamin yang dibangkitkan oleh amigdala dalam otak, dan masing-masing berdasarkan peningkatan hormon yang muncul sebelumnya. Peningkatan kedua muncul sebelum yang pertama mereda, dan yang ketiga menumpuk di atasnya, demikian seterusnya. Tiap-tiap gelombang menumpuk di ujung gelombang sebelumnya yang dengan cepat menambah kadar perangsangan fisiologis tubuh. Gelombang emosi negatif akan terus bersambung dan rangkaian panjang ini memicu intensitas emosi yang lebih hebat dari pada emosi pada awal rangkaian. Pada saat itu, emosi sulit dikendalikan oleh nalar, dan dengan mudah meletus menjadi tindak kekerasan. Emosi negatif akan hilang ketika rangkaian panjang gelombang mereda dan terputus.
Puasa ramadan merupakan sebuah upaya untuk memutus rangkaian panjang gelombang emosi negatif.
- - Siti Nuzulia
Emosi yang kuat akan mengacaukan ingatan kerja seseorang (mengingat dan berpikir). Jika emosi negatif berlangsung terus-menerus, kemungkinan akan timbul cacat pada kemampuan intelektual dan melemahkan kemampuan belajar seseorang. Di samping itu, orang yang terus-menerus dilanda emosi negatif berisiko dua kali lipat terserang penyakit, termasuk asma, artritis, sakit kepala, tukak lambung, dan penyakit jantung. Emosi negatif yang berlangsung terus-menerus juga berhubungan dengan sistem kekebalan melalui pengaruh hormon yang dilepaskan apabila seseorang mengalami stres. Katekolamain (adrenalin dan noradrenalin), kortisol, prolaktin, serta betaendorfin dan enkefalin semuanya dilepaskan ketika terjadi rangsangan emosi negatif. Masing-masing mempunyai pengaruh kuat terhadap kekebalan dan stres menekan perlawanan sistem kekebalan.

Memutus Rangkaian

Puasa ramadan merupakan sebuah upaya untuk memutus rangkaian panjang gelombang emosi negatif tersebut. Setelah hampir sebelas bulan otak kita penuh dengan gelombang emosi negatif yang sangat panjang, Ramadan datang dan berperan sebagai pereda, memotong gelombang emosi negatif yang meracuni otak kita. Syarat Ramadan, yang penuh taburan pahala dan pengampunan dosa, dengan menahan diri dari nafsu manusia dan memperbanyak ibadah, membuat kita berlomba-lomba melakukan ritual keagamaan dengan kuantitas dan kualitas yang makin meningkat. Kegiatan ritual serta upaya pengendalian diri berperan penting dalam “mengadu pikiran-pikiran yang memicu lonjakan emosi negatif”. Dengan begitu gelombang emosi negatif yang menumpuk di otak sedikit demi sedikit memendek sampai akhirnya menghilang. Implikasinya, ingatan kerja berjalan normal, pikiran lebih tenang, dan kondisi tubuh lebih sehat.
Selain mampu mengadu pikiran yang dapat memicu lonjakan amarah, rutinitas ritual yang semakin intensif juga melatih kedisiplinan diri. Ia menuntun manusia untuk mengatur waktu hidupnya dengan keseimbangan penuh antara kepentingan akhirat dan duniawi. Ramadan merupakan bulan penggodokan untuk mencetak orang-orang dengan perbuatan baik. Seperti yang dikatakan oleh banyak ahli ilmu perilaku, perbuatan baik akan cenderung menetap pada diri seseorang ketika selama 21 hari dia berhasil mendisiplinkan diri melakukan perbuatan tersebut. Ramadan tidak hanya 21 hari, tapi sebulan penuh. Jika sebulan penuh kita mampu bertahan, niscaya, kita akan terlahir sebagai manusia baru.
Semoga puasa Ramadhan menjadikan peningkatan kualitas kemanusiaan kita, sehingga kita terlahir kembali dan memiliki kekuatan, ketabahan, kesabaran untuk menghadapi tantangan ke depan yang kian berat. Amin.
–Siti Nuzulia, dosen Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang
sumber : http://unnes.ac.id/gagasan/psikologi-puasa/
komentar | | Read More...

Psikologi Islami Menjawab: Apakah itu Manusia

Penulis : LSI Crew on Minggu, 18 Mei 2014 | Minggu, Mei 18, 2014

Minggu, 18 Mei 2014

oleh :Bang Faiy

Filsafat Manusia merupakan induk dari segala cabang ilmusekarang yang ada, salah satunya Psychology berasal dari kata Psyche artinya Jiwa, dan Logy yang memiliki arti Ilmu. Psychology merupakan ilmu jiwa dimana merupakan hasil dari menifestasinya. apakah itu Manusia? Selalu menjadi perbincangan sejak dahulu oleh orang orang filosof dan ilmuwan barat yang berupaya mencari konsep tentang apakah itu Manusia. Namun dalam membangun teori maupun hasil analisa manusia selalu mendapati kecacatan dalam memahaminya. Seperti konsep awal mula manusia menurut Charles Darwin, dimana manusia berasal dari evolusi manusia purba. Dan islam sendiri menyatakan bahwa manusia berasal dari keturunan Nabi Adam AS, yang merupakan manusia seutuhnya. 

Menurut Posmodernisme memandang manusia sebagai alata yang bias diotak-atik seenaknya. Dalam pandangan ilmu-ilmu sosial, Manusia sebagai makhluk yang berada dalam keadaan sekarat dan tinggal menunggu ajal ( man is dead or dying). Ini erat kaitanya dengan teori evolusi “ siapa yang kuat dia yang bertahan hidup”. Saat kita belajar ilmu psikologi, akan adanya berbagai pandangan aliran yang merupakan akar dari filsafat. Menurut Hanna Djumhana, “Sekalipun pendekatan itu bersifat empiris-induktif pasti pada taraf tertentu akan sampai pula pada pertnyaan filosofos Apakah Manusia itu. Penulis meyakini bahwa yang menciptakan manusia lebih tahu tentang apa-apa yang diciptakan, dibandingkan manusia yang hanya sedikit sekali ilmunya, di ibaratkan ilmu Allah berdasar Ayat kauniyah dan kauliyah seluas samudera, sedangkan manusia seperti jari yang dicelupkan dan dingkatlah hingga hanya setetes air. Dengan mengambil konsep manusia menurut Al Quran adalah “basyar, insan, dan dzuriyah”. (1) Basyar dalam Al Qur’an merupakan aspek fisik maupun psikis yang Nampak. (2)  Insan berarti merupakan manusia yang senantiasa tunduk, berbeda dengan hewan dimana aspek kerohanian, perbedaan fisik, keimanan, dan akhlak.(3) Dzuriyah Pembawaan manusia sejak lahir mulia. 

Psikologi mempelajari manusia dalam aspek kejiwaan, penulis sendiri meyakini bahwa seharusnya psikologi lebih mempelajari tentang Hati (Qalb). Jiwa lebih dekat dengan efektif dengan aspek Religius, Journal of Psychiatry and Archieves of General Psychiatry menunjukan bahwa 72% responden terdapat hubungan positif antara komitmen agama dan kesehatan jiwa. Psikologi Klinis menyatakan kesetujuanya bahwa keimanan agama adalah hal yang terpenting dalam mempengaruhi kehidupan mereka (Bergin dan Jensen, 1990).

Memahami Manusia dalam perspektif Al-Quran sebagai berikut:
1) Keberadaan manusia tiada lain  bukanlah hal kebetulan, tetapi segala apa yang ada doi langit dan di bumi merupakan kesengajaan penciptaan dari sang Khalik
2) Allah yang menciptakan manusia pastinya Allah yang lebih tahu karakteristik  sampai kehal paling kecil manusia, dan bagaimana cara manusia bahagia dunia dan akhirat.
3)  Pengetahuan manusia terbatas dan ilmu Allah tiada batas, sehingga informasi menganai pengembangan manusia terdapat dalam Al-Quran yang perlu di gali secara benar.

 “Kami akan memperlihatkan kepada tanda-tanda (kekuasaan ) Allah di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri” (QS. 41:53)


Daftar Pustaka:
Al-Quran
Hawari, Dadang. 2002. “Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi”. Jakarta: UI Press
Sutoyo, Anwar. 2012. “Manusia dalam Perspektif Al-Qur’an”. Semarang: PPS UNNES
Anchok, Djamaludin& Fuad Nashory. 2011. “Psikologi Islami”. Yogyakarta: Putaka Pelajar  

komentar | | Read More...

New Age Movement, Ajaran Yahudi Berbungkus Pelatihan Motivasi (1)

Penulis : LSI Crew on Sabtu, 17 Mei 2014 | Sabtu, Mei 17, 2014

Sabtu, 17 Mei 2014

Diupayakan di dunia ini hanya satu agama, yaitu agama Yahudi. Oleh karena itu segala keyakinan lainnya harus dikikis habis. Kalau dilihat di masa kini, banyak orang yang menyimpang dari agama. Pada hakekatnya kondisi seperti itulah yang menguntungkan yahudi (Protocol of Zion Ke 14)

Tidak jarang kita mengamati banyak sekali pelatihan-pelatihan motivasi spiritual hadir di negara kita. Selain melejitkan potensi iman, ada pula yang mengaku bisa mendekatkan spiritualitas seorang hamba kepadaNya. Caranya simpel, anda hanya disuruh kosongkan pikiran, dengarkan hati nurani, ingat dosa-dosa anda dan rasakan ada titik Tuhan hadir di situ. Tak jarang air mata peserta meleleh setalah itu.

Namun uniknya, sekalipun banyak memakai embel-embel iman, training ini rupanya tidak cukup zuhud dan tawadhu. Ia banyak dijual lewat bandrol jutaan rupiah. Diisi oleh pengajar-pengajar berdasi. Bayangkan untuk kelas eksekutif saja, bisa dibandrol 5-7 juta rupiah. Yang gratis juga banyak, syaratnya anda harus masuk ke organisasi mereka, lalu ikut kelas-kelas penyatuan diri dengan tuhan lewat alunan musik.

Pelatihan model seperti ini mencoba meredusir Islam dari ideologi ke spiritualitas belaka. Dari tauhid menjadi macam-macam tuhan serba ada. Makanya anda jangan kaget, jika ada orang Budha, Hindu, Nashrani, Konghucu hadir di pelatihan ini. Dalihnya, bahwa mereka sama-sama memiliki suara hati seperti orang Islam. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mengidentifikasi mana suara hati dan mana suara setan? Coba hitung dari pelatihan motivasi seperti ini mana yang lebih sering mereka sebut: Tuhan atau Allah?

New Age Dan Sejarah Kaballah

Kasus di atas adalah satu kisah dari sekian banyak cacat inflitrasi New Age Movement (NAM) atau gerakan zaman baru dalam kehidupan kita. NAM sendiri di Barat sangat laku. Ia bukan lagi sekedar alternatif dari kekosongan nilai masyarakat, namun telah menjadi “agama” baru Barat persis setelah Frederich Nietszche membunyikan lonceng kematian Tuhan yang menggema di seluruh Eropa dan Amerika.

Anda penasaran seperti apa rupa NAM? Wikipedia mengatakan NAM adalah gerakan spiritual non-agama Barat yang berkembang pada paruh kedua abad ke-20. Fokus utamanya berkisar pada penyatuan dunia Timur dan Barat pada tradisi spiritual metafisik semata. Upaya ini gencar dilakukan untuk menanamkan pengikutnya lewat pengaruh self-help, psikologi motivasi, kesehatan holistik, parapsikologi, penelitian kesadaran dan fisika kuantum.

Hal ini bertujuan untuk menciptakan spiritualitas tanpa batas atau dogma yang lebih inklusif dan pluralistik dalam kehidupan. Karakteristik lain dari NAM sendiri adalah bagaimana doktrin ini amat berpegang teguh pada pandangan dunia holistik, dalam arti bahwa Pikiran, Tubuh dan Roh saling berhubungan dan bahwa ada bentuk Kesatuan dan persatuan seluruh alam semesta. Lebih lanjut daripada itu, NAM berupaya simultan untuk menciptakan sebuah pandangan dunia yang meliputi ilmu pengetahuan dan spiritualitas.

Tidak selsai di situ, yang menarik ialah di paragraf terakhir Wikipedia menulis:

“The New Age movement includes elements of older spiritual and religious traditions ranging from atheism and monotheism through classical pantheism, naturalistic pantheism, and panentheism to polytheism combined with science and Gaia philosophy; particularly archaeoastronomy, astronomy, ecology, environmentalism, the Gaia hypothesis, psychology, and physics. New Age practices and philosophies sometimes draw inspiration from major world religions: Buddhism, Taoism, Chinese folk religion, Christianity, Hinduism, Islam, Judaism, Sikhism; with strong influences from East Asian religions, Gnosticism, Neopaganism, New Thought, Spiritualism, Theosophy, Universalism, and Western esotericism. The term New Age refers to the coming astrological Age of Aquarius”

Dengan begitu, di sinilah kedok NAM sejati terbuka lebar. Ia rupanya tidak lebih dari pengejawantahan dunia kemusyrikan, paganisme, dan theosofi sebagai prinsip dasar pergerakan.

Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim patut waspada bahwa gerakan ini hanyalah peralihan wujud dari ide-ide kabbalah kuno dan misi Yahudi yang berlindung di kedok pelatihan kepribadian, spiritualitas, melejitkan potensi dan apalah namanya. Bahkan anda tahu, Nancy Percy, seorang pengkaji worldview dari Philadhelphia Biblical University, dalam tulisannya, Modern Islam And The New Age Movement menyatakan bahwa gerakan NAM hanyalah ekspresi yang lebih baru dari kecenderungan lama untuk mengimpor panteisme Timur ke dalam budaya Barat, yang dimulai dengan doktrinasi Plotinus dan neo-Platonisme.

JN Findlay, seorang teolog Kristen, juga mengatakan demikian. Ia beranggapan bahwa pengaruh pemikiran filsafat Yunani, khususnya Plato dan Neoplatonisme, pada perkembangan dalam Kabbalah telah lama diakui. Sejumlah Kabbalis mencatat ahwa ada hubungan erat antara Kabbalah dan filsafat Platonis. Dan fakta menunjukkan Kabbalah adalah sumber tunggal untuk ide-ide Platonis dan Neoplatonis yang kemudian akan berubah warna dari gagasan ancient wisdom kepada apa yang kita kaji sekarang ini (baca: NAM).

Plato sendiri adalah seorang peletak dasar etika filsafat Yunani yang kuat atas ide-ide penyatuan manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu, David Livingstone, seorang pakar kajian Kabbalah, dalam tulisannya, Plato The Kabbalist, menyatakan bahwa menjadi keprihatinan kita semua bahwa gurita filsuf Kabbalis seperti Plato ini telah menjadi pilar banyak doktrin yang telah melanda abad kedua puluh. Dan konyolnya, satu-satunya alasan dia telah mencapai reputasi besar adalah bahwa dalam rimba sejarah Barat dan Timur, tradisi okultisme Plato telah dianggap sebagai “godfather” dari berbagai doktrin, dan sebagai wakil besar dari orang-orang yang berhubungan dengan tradisi kuno Kabbalah.

Plato dalam gagasannya mengatakan bahwa jiwa manusia tidaklah mati. Ketika kematian datang kepada tiap individu, ia akan bergabung kepada Sang Maha Baik. Doktrin ini mirip dengan Film yang banyak menyebarkan gagasan NAM, yakni Avatar. Dalam film berdurasi kurang lebih tiga jam dan menjadi top seller di Amerika ini, digambarkan bahwa bahwa jiwa insan manusia tidaklah mati, sebab mereka akan bergabung dengan Roh Eywa. Roh Eywa jangan kita tafsirkan adalah Allah. Sebab Eywa dalam mistisme Avatar, tidak lebih dari perwujudan Yahweh dalam agama Yahudi.

Peralihan doktrin dalam film Avatar ini sebelum menjadi pegangan NAM, sebenarnya bukan ide baru sebab ia telah diperkenalkan oleh Yahudi Mazhab Hasidik. Yudaisme Hasidik sendiri dipelopori oleh Baal Shem Tov pada medio 1600 hingga 1700 Masehi.

Menurut Michael Keene dalam bukunya “Agama-agama Dunia” menjelaskan bahwa Yudaisme Hasidik meninggalkan pendekatan orthodoks pada hal-hal ilmiah dan memuaskan perhatian pada tradisi ritual dan mistis Yahudi. Berbeda dengan mazhab Yahudi lainnya, pemimpin Yudaisme Hasidik (Rebbe) dipercayai memiliki karunia spiritual melebihi karunia yang diberikan pada rabbi pada umumnya. Gerakan Hasidik ini kemudian banyak menancapkan kuku baik di Israel maupun Amerika lewat penyatuan manusia dan Yahweh.

Oleh karena itu, ajaran NAM memang memiliki pandangan yang sejalan dengan ide-ide Kabbalah, Filsafat Plato, neo Platonisme, hingga theosofi. Akhirnya dengan begini kita bisa mengerucutkan pada garis umum tentang sifat sejati ajaran NAM sendiri yang berpijak pada lima elemen penting, yakni:


  1. Monisme, keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada, merupakan derivasi (penjabaran) dari sumber tunggal devine energy. Pada tingkat tertentu dapat digabungkan menjadi kesatuan dari semuanya.
  2. Pantheisme, yakni gagasan God is all and all is god, Allah adalah segala sesuatu dan segala sesuatu adalah allah. God within ourself atau Allah dalam diri kita. Bandingkan dengan God Spot ala Danah Zohar.
  3. Reinkarnasi, keyakinan bahwa jiwa manusia kembali pada eksistensi jas-maniah berulangkali, hingga mencapai keadaaan terbaik dan tertinggi dari Great Oneness atau keesaan agung alam semesta.
  4. Pencerahan, kepercayaan bahwa kita memiliki pengetahuan rahasia yang terkandung di alam bawah sadar kita. Sebagaimana disebutkan oleh Carl Gustave Jung, bawah sadar kolektif umat manusia memungkinkannya dapat memanipulasi energi dan zat [roh] dengan pikirannya, dan melaluinya dapat memperoleh kekayaan dan kesehatan.
  5. Spiritisme, keyakinan bahwa ada roh-roh yang dapat dihubungi oleh orang-orang mati sehingga dapat memberi wawasan kepada seseorang mengenai etika dan makna kehidupan di bumi.

Dengan menelisik data dan fakta yang ada, kita bisa menyimpulkan bahwa sejarah NAM adalah sejarah panjang sekaligus kelam dari kontinuitas ajaran Kabbalah yang ingin mewujudkan dunia ini dalam satu pandangan yakni Novus Ordo Seclorum. Pandangan ini tidak lebih ingin meredusir agama pada sisi spiritualitas belaka yang ujungnya akan menafikan peran Tuhan dalam agama tauhid, penyatuan manusia dengan tuhan, doktrin humanisme sekular, dan yang paling kita patut waspadai adalah membentuk kerajaan tunggal dimana dunia akan digerakkan oleh satu kekuatan, yakni Al Masihuddajal. (Pz/Islampos/Bersambung)

diambil Tauhidi, Muhammad Pizaro Novelan. 2013. Zionis dan Syiah Bersatu Hantam Islam. Tangerang: Ar-Rahman Publising
komentar | | Read More...

kalender

Popular posts

Blogroll

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger