Lingkar Studi Islam Psikologi Unnes


Merupakan lembaga Kerohanian Islam yang mengkaji permasalahan psikologi dari perspektif islam di Jurusan Psikologi, Fakultan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang yang Sehat, Unggul, dan sejahtera.

Gedung A1 Lantai 2 Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Kec. Gunungpati Semarang

email : lsipsikologi.unnes@gmail.com
No. HP : 085865091326
News Update :
slider otomatis

Bergesernya Parameter Kebenaran

Penulis : maama on Senin, 22 Desember 2014 | Senin, Desember 22, 2014

Senin, 22 Desember 2014



“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” [An Naml: 16]
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah: 216]

Saat ini, kita telah banyak melihat dalam kehidupan sehari-hari kita, banyak orang tidak mengenal lagi suatu kebenaran. Parameter kebenaran yang banyak dipahami bukan lagi kebenaran mutlak, kebenaran yang dipahami adalah ketika banyak orang mengatakan “benar” sekalipun itu adalah sesuatu yang salah. Sebenarnya, fenomena semacam ini bukan lah seuatu yang baru dalam sejarah kehidupan manusia. Sebagaimana yang ditulis oleh Abu Fatiah Al Adnani dalam tulisannya yang berjudul “Ketika Parameter Menilai Kebenaran Telah Berubah” di majalah An Najah bulan Oktober lalu, Al Quran banyak berkisah tentang fenomena ini.
“Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan, ‘usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu. Karena sesungghnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan) dirinya bersih” [An Naml: 56]
Menurut Abu Fatiah Al Adnani, ayat dalam surat di atas memberi gambaran tentang terjadinya pergeseran nilai dalam sebuah masyarakat. Mereka, kaum Nabi Luth menganggap bahwa orang yang menjaga keluhuran dan kehormatan justru dianggap penjahat dan harus mendapat hukuman. Orang yang berkeinginan memperbaiki kondisi masyarakat dianggap sebagai perusak, dan harus di usir dari lingkungan mereka. Saat homoseksual telah menjadi gaya hidup mereka, hingga tidak ada seorang pun merasa terganggu, maka mereka menganggap aneh orang-orang yang tidak berperilaku seperti mereka.
Al Quran juga mengisahkan tentang Nabi Musa yang tertulis dalam surat [Al A’raf : 127], Nabi Musa dianggap oleh pengikut Firaun sebagai perusak dan tidak boleh dibiarkan begitu saja. Begitu juga pembesar kaum Syuaib yang beranggapan bahwa mengikuti ajaran Nabi Syuaib justru  akan mengantarkan pada kerugian [Al A’raf: 90]. Kerugian yang mereka maksud tentunya bukan kerugian akherat, melainkan kerugian karena hilangnya kedudukan, jabatan, serta hilangnya kenikmatan hidup.
Saya, setuju dengan ungkapan Abu Fatiah Al Adnani, hari ini kita juga sedang mengalamai fenomena ini. Karena memang fenomena seperti itulah yang saya lihat saat ini. Banyak orang yang sudah melupakan “kebenaran” yang sesungguhnya, justru orang-orang yang berusaha berpegang teguh pada kebenaran dianggap sebagai orang aneh. Kita bisa melihat dari cara berpakaian kaum wanita. Mereka yang berpakaian terbuka dianggap biasa saja, tapi wanita yang berpakaina tertutup dan syar’I justru dianggap aneh. Kita juga bisa melihat dari pemikiran-pemikiran yang mulai terlihat bebas, seperti pacaran dianggap hal yang umum dan dianjurkan, tapi remaja yang menjomblo justru dianggap kuper.
Begitulah fenomena bergesernya parameter kebenaran yang sedang kita hadapi saat ini. Kebanyakan orang tidak lagi menganggap “kebenaran” datang dari wahyu Allah. Mereka justru menganggap “kebenaran” adalah sesuatu yang kebanyakan orang menganggapnya “benar”. Menurut saya, fenomena ini erat kaitannya dengan illusion of truth dan hello effect yang kita kenal dalam ilmu psikologi. Tentunya, fenomena ini juga disebabkan banyak faktor termasuk kebodohan, fanatik, taklid buta, ghulu, dan lalai dari perenungan ayat-ayat Allah. Kebodohan dan lali dari perenungan ayat-ayat Allah menyebabkan kita mengalami “illusion of truth”, sementara fanatik, taklid, dan ghulu berawal dari hello effect.
Illusion of Truth artinya adalah ilusi kebenaran. Yaitu, ketika suatu kabar diungkapkan secara berulang-ulang, kita akan mulai meyakini bahwa kabar itu adalah valid, meskipun sebenarnya kabar itu hanyalah sebuah kebohongan. Contoh sederhananya bisa kita temui saat kita sedang ujian. Ketika kita dibingungkan dengan pilihan jawaban saat ujian, bisa jadi kita memilih bertanya pada teman yang posisinya dekat dengan kita untuk meyakinkan, meskipun saat itu kita telah memiliki persangkaan jawaban. Bisa jadi, ketika kita menyangka jawaban yang benar adalah A, namun kita tahu jawaban teman disamping kita adalah B, pun teman di belakang dan depan kita juga memilih jawaban B. Kita pun akhirnya berfikiri, mungkin jawaban yang benar memang B. Padahal, kenyataannya belum tentu jawaban itu benar, bisa jadi jawaban yang kita sangkakan justru benar. Begitupun dengan fenomena yang kita hadapai saat ini, kebenaran yang berasal dari anggapan kebanyakan orang, bisa jadi itu hanyalah sebuah ilusi. Bahkan, media-media saat ini sudah sering menggunakan trik ini dalam melakukan black campaign, agar masyarakat percaya pada berita bohong dengan cara mengulang-ulang pemberitaan itu.
Bergesernya parameter kebenaran juga tidak lepas dari hello effect yang keterlaluan. Seringkali, kita terjebak dalam hal ini. Ketika kita menganggap seseorang itu benar, sering kali kita bahkan tidak akan mempercayai bahwa ia melakukan suatu kesalahan. Sehingga kita justru menganggap kesalahan yang ia lakukan merupakan sesuatu hal yang benar, dan kita mulai mengikutinya. Kita sudah terburu-buru mencap seseorang yang berbeda pendapat dengan kita adalah tidak benar. Seperti inilah fanatik, menganggap benar sesuatu yang diwarisi dari nenek moyang kita sekalipun itu adalah batil. Ini juga merupakan gambaran ghulu (berlebih-lebihan) dalam mencintai seseorang yang kita anggap benar, sampai-sampai kita tidak percaya bahwa ia melakukan kesalahan dan justru menganggap kesalahan itu adalah suatu kebenaran. Ini juga merupakan gambaran taklid, yaitu mengambil pendapat manusia tanpa mengetahuo dalilnya dan tanpa menyelidiki sejauh mana kebenarannya.
Padahal, bukankah Allah telah berpesan untuk tidak mengikuti kebanyakan orang? Dan bukankah Allah telah berpesan bahwa bisa jadi yang kita benci adalah baik dan yang kita suka adalah buruk. Maka, alangkah baiknya jika ditengah-tengah masyarakat dengan kondisi seperti ini kita memfilter informasi yang kita dapat, dan tidak langsung menerimanya mentah-mentah, tapi juga dipilah berdasarkan kebenaran yang hakiki atas dasar petunjuk Allah dan RasulNya, agar kita tidak termasuk dalam orang-orang yang terjebak dalam menilai kebenaran.
*Amatullah Sibghotul Iezzah
Semarang, Gunungpati, 22 Desember 2014
komentar | | Read More...

Larangan Berkeluh Kesah

Penulis : Unknown on Kamis, 06 November 2014 | Kamis, November 06, 2014

Kamis, 06 November 2014

Berikut merupakan beberapa darar bagi kaum muslimin untuk tidak berkeluh kesah:
1.      “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah.” (QS Al- Ma’arij [70]: 19-20)
2.      Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi berkata, “Keluh kesah adalah perkataan yang buruk dan persangkaan yang buruk.”
3.      Nabi Ya’qub pernah berkata, “Sesungguhnya, aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihan hatiku kepada Allah.”
Ada sebuah organ diotak, kalo itu buruk maka buruk semuanya dan kali dia baik maka baik pula semuanya. Organ tersebut namanya talamus, tugasnya adalah memancarkan berbagai informasi yang sampai kepada kita melalui indra. Dengan kata lain talamu adalah stasiun relay. Pada saat masukan informasi ketalamus ini jelek, informasi yang dipancarkan ke segenap bagian otak pun adalah kejelekan. Kalau talamus memancarkan informasi keburukan karena yang kita makan, kita dengar, dan kita rasakan buruk, tasbih sel-sel dalam tubuhpun akan terganggu.
Secara psikologis, kejelekan manusia itu tergambar dalam rasa cemas, khawatir, takut, insomsia, bulimia, dan trauma. Apabila kita gemar berkeluh kesah tentang berbagai kesulitan hidup, apalagi sampai memberitahukan kepada orang lain, kita akan menjadi manusia yang paling sedih. Misalkan, kita mengeluhkan masalah kita pad 10 orang. Setiap kali kita bicara maka semakin luka hati kita tersebut sehingga kortisol dan skotofobonnya (hormon takut dan cemasnya) naik. Hal ini akan mengakibatkan trgerusnya kebahagiaan dan ketenangan hidup. Curhat kepada manusia apalagi kepada yang tidak berkompetendalam membantu menyelesaikan masalah leganya sebentar, tetapi sumpeknya berkepanjangan. Misal kita bicars kepada si A, agag lega hati kita. Setelah itu kita mengulanginya kepada si B. Hati yang semula agag lega maka akan menjadi sumpek kembali karena kita mengulanginya lagi.
Pada saat perasaan negatif akibat berkeluh kesah tadi masuk ke talamus, bagian ini akan segera me-relay informasi tersebut ke bagian otak, seperti kebagian pengatur motorik,bagian pengatur kognisi, bagian pengatur budi luhur yang dipakai ibadah, akhirnya orang hidup dengan kecemasan, kesedihan, dan ketidakberdayaan.talamus di otak pun akan memancarkan kecemasanyang menakut-nakuti. Akibatnya, tubuh yang cemas akan merespons dengan mekanisme perlawanan (respons defensif), jantung akan berdetak lebih kencang, contoh reaksi miip seperti kita dikejar anjing. Adrenalin pun dipompa dengan keras secara terus menerus bisa mengakibatkan pengikisan pada dinding-dinding pembuluh darah. Oleh karena itu orang yang gemar berkeluh kesah , hidupnya akan jauh dari rasa bahagia karena tidak adanya rasa syukur. Diapun akan sangat rentan terhadap penyakit.


sumber :
Azhar, Tauhid N. 2011. Mengapa Banyak Larangan?Hokmah dan Efek Pengharaman dalam Bercinta, Kesehatan, serta Psikologi Kejiwaan. Solo: TigaSerangkai
komentar | | Read More...

Tergesa-Gesa, baikkah?

Berikut dalam Al-Quran dan Hadist yang merupakan darar bagi kaum muslimin:
1.      “Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana dia berdoa untuk kebaikan. Dan adalah manusi bersifat tergesa-gesa.” (QS Al-Isra’ [17]: 11)
2.      “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (azab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkanya dengan segera.” (QS Al-Anbiya’ [21]: 37)
3.      Dari Sahal Ibnu Sa’ad bahwa Rosulullah saw. Bersabda, “ Ketenngan (sabar dan berhati-hati) adalah dari Allah dan tergesa-gesa (terburu-buru) adalah dari setan.” (HR Turmudzi)


Hidup adalah sekumpulan pilihan. Setiap saat, setiap waktu, dan disetiap tempat, kita daiharuskan untuk memilih satu diantara dua atau beberapa hal yang terikat sama pentingnya dan sama baiknya. Setelah memilih, ada konsekuensi-konsekuensi yang harus kita tanggung dari pilihan tersebut; baik atau buruk. Itulah sebabnya, yang mengedepankan proses berfikir sebelum bertindak menjadi sebuah tindakan bijak sehingga konsekuensi yang timbul dari hasil memilih tersebut tidak membawa kemudharatan.
Namun sayang, keputusan yang kita ambil sering kali hanya didasari pertimbangan jangka pendek dan hanya berorientasi keuntungan sesaat. Ada banyak keputusan diambil tanpa melakukan studi yang mendalam tentang dampak yang ditimbulkanya. Inilah yang disebut ketergesa-gesaan.
Tergesa-gesa pada dasarnya adalah tindakan yang tidak didasarkan atas informasi yang benar, akurat, lengkap, dan shahih, hanya berdasar kata orang, rumor atau informasi yang sepotong-sepotong, dan keinginan untuk mendapatkan hasil dengan cara mudah. Jadi jangan heran jika tindakan tergesa-gesa berakhir dengan kekecewaan.
Proses semacam ini tidak hanya terjadi pada sekala birokratataupun korporat, melainkan dialami dan dilakukan dengan sadar oleh kita sendiri. Dalam sekala pribadi, contohnyatanya seperti membuang sampah tidak pada tempatnya atau menghendikan angkutan umum bukan di haltenya. Tempat sepele, tetapi dalam konsep islam kebiasaan yang terus diulang adalah sebuah bentuk riyadhah (pelatihan). Apabila kita melihat diri untuk menafikan dan mengeliminasi kedisiplinsnserta mengabaikan perinagtan nurani, pada tingkatan yang lebih besar kita akan terbiasa melakukan pembenaran (legitimasi) terhadap kesalahan. Perilaku instan atau menginginkan segalanya tercapai melalui upayaminimal pada akhirnya akan menjadi karakter yang terurat berakar dan sulit untuk diuraikan.
Nah, ketika kesengangan dan kenyamanan telah dimunculkan sebagai sebuah tujuan, kemudian manusia menjadi tidak sabar dan tergesa-gesa untuk mencapainya, kerja sistem tubuh tidak optimal. Akibatnya, ambang batas kita untuk memaknai dan mencerna kegagalan, kesedihan, dan kekecewaan jadi sangat berkurang.
Jadi kita jangan heran jika angka penyalahgunaan  obat terlarang makin meningkat dari hari ke hari. Bagi masyarakat yang sedang sakit, obat-obatan terlarang seolah menjadi jalan pintas yang menawarkan banyak kesenangan dan banyak kemudahan. Padahal, yang maha kuasa telah mengaruniakan kepada kita senyawa preopioid mela-nocortin (POMC) yang ada di otak. Senyawa ini akan meningkat kadarnya secara bertahab sesuai dengan upaya usaha dan do’a.
Secara biomedik, selain kegagalan berprestasi dalam berbagai bidang kehidupan, kondisi seperti ini akan memunculkan penyakit-penyakit degeneratif. Akan lahir sebuah kondisi dimana sistem tubuh kita melemah dan mudah mengalami kerusakan struktural, sebagaicontoh kerusakan sel-sel pankreas karena adanya kekacauan pengaturan kadargula darah.

Kelainan lain adalah kerusakan dinding pembuluh darah, khususnya sel endotelatau sel pelapis dinding pembuluh darah sebelah dalam. Kerusakan sel indotel biasanyaterjadi karena arus pembuluh darah yang tidak kuat, terkadang sangat deras dan terkadang sangat lemah. Keadaan ini sesuai dengan rirme jantung orang yang gelisah. Lambat laun dinidng pembuluh darah akan terluka. Akibat dari proses penyembuhan luka dapat terbrntuk jaringan ikat dan jaringan lemak pada pembuluh darah, khususnya pembuluh darah jantung (pembuluh koroner). Kondisi semacam ini akan menyebabkan penyumbatan. Penyakit ini kita kenal sebagai jantung koroner.

sumber :
Azhar, Tauhid N. 2011. Mengapa Banyak Larangan?Hokmah dan Efek Pengharaman dalam Bercinta, Kesehatan, serta Psikologi Kejiwaan. Solo: TigaSerangkai
komentar | | Read More...

Orang yang pelit akan hidup dalam kecemasan, ketakutan dan kesakitan.

Dibawah ini adalah beberapa hadist dalam ajaran islam tentang larangan berprilaku kikir diantaranya :
1.      “Ada dua sifat yang tidak akan bertemu dalam diri seorang mukmin, yaitu kikir (bakhil) dan akhlak yang buruk.” (HR. Ahmad dan Turmudzi)
2.      “Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tanganya apabila dia terpleset (jatuh). Seorang pemurah hati dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dekat kepada surga. Seorang yang bodoh tapi murah hati (dermawan) daripada seorang alim (taat ibadah) tetapi kikir.” (HR Tabrani)
3.      “Jauhilah kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat, dan jauhilah kikir karena dia telah membinasakan orang sebelum kamu.” (HR Muslim)
4.      “Tidak akan masuk surga orang yang suka menipu, orang yang kikir, dan orang yang tidak bertanggungjawab terhadap apa yang dimilikinya.” (HR Turmudzi)
Dalam terminologi stres, sekala tertinggi yang diduga menjadi sebab utama adalah gejala takut kehilangan. Skala  tertinggi dalam terminologi stres adalah kehilangan pasangan hidup akibat kematian, kehilangan anak, saudara, sahabat dekat, dan kehilangan segala sesuatu yang kita anggap berharga pada hidup. Dalam sekala 1-100, tiga kehilangan tersebut mnendapat sekor tertinggi, yaitu sekitar 97-100.
Rasa kepemilikan yang hampir tiada batas sesungguhnya adalah beban yang sangat memberatkan jiwa. Lihat saja tabel fluktuasi (naik turunya) hormon cemas manusia pada saat menjalani aktivitas yang dapat mengakibatkan kematian dan beresiko tinggi. Rasa takut kehilangan nyawa dan hal-hal yang sangat berarti dalam hidup akan mendorong terjadinya hormon-hormon cemas seperti kortisol, adrenalin dan norepinefrin. Berjalinya ketiga hormon ini akan mrnghadirkan kecemasan yang kronis.
Depresi adalah salah satu hasil dari kecemasan dan ketakut yang berkepanjangan. Dengan bersifat dermawan, kita dilatih untuk senantiasa mengurangi rasa kepemilikan absolut tersebut. Denganberbagi pun kita diajak untuk senantiasa mengaktifkan jalur empati di otak. Jalur ini teridentifikasi sebagai jalur yang membangkitkan sekaligus dibangkitan oleh hormon-hormon cinta (oksitosin, dopamin, dan serotonin). Jadi saling berbagi tidak hanya akan dapat mengurangi kecemasan dan kemungkinan depresi, tetapi juga dapat menghadirkan kebahagiaan dan hangatnya cinta di benak nita.

Orang yang pelit dan tidak mau berbagi dan menyayangi akan hidup dalam kecemasan, ketakutan dan kesakitan. Bukankah stres dan kecemasan yang berkepanjangan akan menekan sistem imunitas tubuh? Akibatnya, tubuh menjadi lemah dan rentan terhadap berbafai penyakit. Dengan demikian, sifat tidak mau berbagi bukan saja mengerdilkan aspek manfaat, tetapi juga mendatangkan aneka mudharat.


sumber :
Azhar, Tauhid N. 2011. Mengapa Banyak Larangan?Hokmah dan Efek Pengharaman dalam Bercinta, Kesehatan, serta Psikologi Kejiwaan. Solo: TigaSerangkai
komentar | | Read More...

Dinamika Marah dan Mengapa Mempeturutkan Amarah Dilarang


Dibawah ini adalah beberapa hadist dalam ajaran islam yang merupakan dasar bagi kaum muslimin tentang larangan marah diantaranya :
1.      “Orang kuat bukanlah Orang bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah.” (HR Mutafaqun ‘Alaih)
2.      “Apabila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam.” (HR. Ahmad)
3.      Dikisahkan dari Abu Hurairah, pernah datang kepada Muhammad seorang laki-laki, kemudian dia berkata “berilah aku wasiat!” Nabi pun menjawab, “Jangan Marah!” Beliau mengulangi pesanya tersebut sampai beberapa kali, “Jangan marah!” (HR. Bukhori)

Marah merupakan sebuah bentuk ekspresi diri berupa ketidak puasan terhadap keadaan. Jika demikian setiap orang pasti pernah merasakan emosi bernama marah karena itu normal dan wajar. Akal yang diawali area asosiasi dari lobus frontalis beserta girus presentralis di otak akan mengordinasi peran batang otak dan sistem limbik yang mengawal proses pertahanan diri. Apabila proses pengawalan ini tercedrai oleh peristiwa yang tidak dapat diterima oleh akal sehat, kitapun menjadi marah. Pada saat marah itulah terjadi pengkatan hormon otak dan hormon anak ginjal. Seluruh metabolisme kita meningkat dan siap melaksanakan aksi-aksi yang melibatkan fisik, mental serta pikiran.

Oleh karena itu ketika kita marah dalam islam memerintahkan jika dalam keadaan berdiri maka duduklah, jika duduk maka berbaringlah. Secara postural kondisi fisiologis posisi tubuh. Seorang yang ketika marah sedang dalam posisi berdiri tentu memiliki energi pemompaan ekstra agar aliran darah dapat mencapai otak dengan optimal. Makin berkurang asupan oksigen yang dibawa darah ke-otak, akan makin sulit seorang mengaktifkan sistem pengendalian dirinya. Mengingat sistem pengendalian diri terletak dibagian otak sebelah depan atas. Demikian bula ketika kita duduk, masih ada efek grafitasi yang harus kita lawan. Adapun apabila kita berbaring, aliran darah menuju otak akan sama baiknya dengan yang didistribusikan oleh seluruh tubuh.

Berusaha menempatkan akal sehat di atas emosi akan mampu menghindarkan diri dari berbuat apa yang kita tidak inginkan. Jangan sampai kita meledakan kemarahan tanpa berfikir lebih dahulu atau disebut Daniel Goleman dengan emotional hijacking (pembajakan emosi), karena akan fatal akibatnya. Dala demikian  pembajakan emosi ini, kita tidak memikirkan terlebih dahulu apa akibat-akibatnya atau orang tersebut seperti itu. Biasanya, situasi semacam itu terjadi apabila kita terancam bahaya sehingga kita bereaksi tanpa sempat berfikir terlebih dahulu.

Marah menjadi tidak normal atau tidak wajar apabila kehadianya mendatangkan aneka keburukan baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dalam ungkapan lain marah yang tidak terkendali dan tidak proporsional atau tidak pada tempatnya. Namun bukanlah hal yang mudah untuk menghindari marah yang semacam  ini, sebagaimana dikatakan Aristoteles, “siapapun bisa marah ... karena marah itu mudah. Akan tetapi, marah pada orang yang tepat pada waktu yang tepat, dengan tujuan yang tepat, dan dengan cara yang baik lagi tepat, bukanlah hal tang mudah!”

Marah yang tidak tepat biasanya disebut amarah karena serat dendam dan cenderung menyakiti. Kata-kata dan perbuatan yang dipilih diwarnai hormon adrenalin yang akan mendorong proses penistaan dan melahirkan kepuasan melalui sederet kebencian. Marah ini akan memanipulasi hormon sskotofobin atau hormon takut pada objek kemarahanya. Akibatnya marah yang kita ekspresikan terlepas dari akal sehat, dan minim pertimbangan.

Setidaknya ada tiga keburukan yang dihasilkan dari marah yang semacam ini, khususnya dari segi psikis dan fisiologis.
Pertama, amarah biasanya akan melahirkan penyesalan, rasa malu dan ketidak berartian dalam hidup. Pada saat marah sedang menggebu-gebu kita tidak akan merasakan apa-apa, kecuali dorongan untuk menuntaskan amarah tersebut kepada objek yang kita marahi. Namun, setelah amarah terlampiaskan dan keadaan tenang, tiba-tiba kitapun menjadi sadar akan “kebodohan” yang baru saja kita lakukan. Bahkan akan lahir penyesalan manakala kemarahan tersebut membuat orang lain celaka dan teraniaya, khususnya pada kemarahan yang disertai kekerasan fisik.
Kedua, marah mengubah fungsi organtubuh secara drastis. Beberapa penelitian ilmuah menunjukkan bahwa marah menimbulkan beberapa perubahan dalam seluruh anggota tubuh, khususnya hati, pembuluh darah, perut, otak, dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alami berubah pada waktu marah. Hormon adrenalin dan hormon-hormonlainya menyalakan bahan bakar pada saat marah muncul.

Ketiga, marah akan “mempercepat” kematian. Amarah yang terjadi pada seseorang akan mempengaruhi kesehatannya. Berdasarkan fakta-fakta dilapangan rasa marah yang eksplosif , intens, dan berkepanjangan sudah lama diketahui menyebabkan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, masalah paru-paru, dan penyembuhan luka yang lebih lama. Lebih jauh lagi, amarah dapat menyebabkan kematian secara mendadak jika hal tersebut mencapai tingkat kehebatan tertentu, khususnya ketika pembuluh darah mengalami penyumbatan dan pecah saat tidak mampu mengakomodasi aliran darah yang dipompakan oleh jantung.



sumber :
Azhar, Tauhid N. 2011. Mengapa Banyak Larangan?Hokmah dan Efek Pengharaman dalam Bercinta, Kesehatan, serta Psikologi Kejiwaan. Solo: TigaSerangkai
komentar | | Read More...

kalender

Popular posts

Blogroll

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger