Lingkar Studi Islam Psikologi Unnes


Merupakan lembaga Kerohanian Islam yang mengkaji permasalahan psikologi dari perspektif islam di Jurusan Psikologi, Fakultan Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang yang Sehat, Unggul, dan sejahtera.

Gedung A1 Lantai 2 Universitas Negeri Semarang, Kampus Sekaran, Kec. Gunungpati Semarang

email : lsipsikologi.unnes@gmail.com
No. HP : 085865091326
News Update :
slider otomatis

Patologi Kanker Epistemologis

Penulis : LSI Crew on Rabu, 16 April 2014 | Rabu, April 16, 2014

Rabu, 16 April 2014

Oleh
Syamsuddin Arif, Ph.D *)

Dalam dunia kedokteran, kanker dikenal sebagai penyakit ganas yang mematikan. Jika dibiarkan atau lambat ditangani, sel kanker bisa tumbuh tak terkendali, menyebar dan merusak jaringan-jaringan anggota tubuh, mengakibatkan berbagai komplikasi, disfungsi, gangguan dan kegagalan. Cukup mengerikan. Namun ada yang lebih dahsyat dari itu, yang disebut “kanker epistemologis”. Kanker jenis ini memang tidak berbentuk tumor, dan karenanya tidak dapat ditangkap oleh sinar-x. Akan tetapi bahayanya tidak kalah mengerikan. Jika tidak lekas ditangani, kanker epistemologis bisa melumpuhkan kemampuan menilai (critical power) serta mengakibatkan kegagalan akal (intellectual failure). Pada gilirannya penyakit ini akan menggerogoti keyakinan dan keimanan, dan akhirnya menyebabkan kekufuran.

Pengidap kanker epistemologis biasanya memperlihatkan gejala-gejala sebagai berikut. Pertama, bersikap skeptis terhadap segala hal, dari soal sepele hingga ke masalah-masalah prinsipil dalam agama. Ia senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Baginya, semua pendapat tentang semua perkara (termasuk yang qath’i dan bayyin dalam agama) harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Pada tahap yang paling ekstrim, mereka yang terjangkit skeptisisme akut akan meragukan tidak hanya kebenaran posisinya sendiri dengan berkata “I don’t know” (nescio), bahkan juga mengklaim bahwa kebenaran hanya bisa dicari atau didekati, tetapi mustahil ditemukan (nesciam). Dalam literatur filsafat Yunani kuno, sikap mental semacam ini dinamakan arrepsia (bimbang, sangsi) dan aoristia (bingung, tidak bisa memutuskan).

Gejala kedua adalah berfaham relativistik. Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte, kelompok, dsb) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Menurut faham ini, kebenaran berada dan tersebar dimana-mana, namun semuanya bersifat relatif.

Anda, saya, maupun dia, masing-masing sama-sama benar, tidak boleh menyalahkan satu sama lain, dan tidak berhak mengklaim diri sebagai yang atau paling benar. Jika seorang skeptis menolak semua klaim kebenaran, maka seorang relativis menerima dan mengaggap semuanya benar (panaletheisme).

Dalam hal ini, relativisme epistemologis adalah identik –kalau bukan sinonim– dengan pluralisme. Jika diteliti dengan seksama, paham seperti ini sebenarnya bangkrut. Dari mana ia dapat menyimpulkan bahwa semua pendapat adalah benar? Padahal, konsep ‘benar’ itu ada justru karena adanya konsep ‘salah’ .

Bahwa sindrom ini telah menjangkiti sebagian kalangan cendekiawan dan tokoh agama telah terbukti, misalnya, dalam ungkapan seorang kolumnis di harian nasional belum lama ini. Mengomentari kasus Amina Wadud, ia menulis: “Di dunia ini, kita tidak pernah tahu Kebenaran Absolut. Yang kita tahu hanyalah kebenaran dengan ”k” kecil. Dengan kata lain, apa yang kita yakini sebagai kebenaran mungkin saja salah. Kita mencari kebenaran sepanjang hidup. Apa yang kita percaya sebagai kebenaran adalah sesuatu yang merupakan hasil dari proses belajar dari orang tua, dari sekolah, dari buku, dari lingkungan, dari guru, dari pengalaman hidup, sampai sekarang. Saya tidak bisa mengatakan, apa yang saya anggap benar, pasti benar. Selalu harus terbuka kemungkinan untuk mengoreksi, meninjau ulang,” begitu kutipnya.

Selain lugu (karena membantah ucapannya sendiri alias self-refuting), kolumnis ini hanya menunjukkan kejahilan (ignorance)-nya, karena tidak bisa membedakan antara pengetahuan yang kebenarannya bersifat putatif (seperti teori-teori sains) dan yang pengetahuan yang sudah final dan tsabit dalam agama.

Gejala lain yang ditunjukkan oleh pengidap kanker epistemologis adalah kekacauan akal (intellectual confusion). Ia tidak lagi bisa membedakan yang benar dan yang salah, yang haqq dan yang bathil. Ia cenderung menyamakan dan mencampur-adukkan keduanya. Garis demarkasi yang memisahkan kebenaran dan kepalsuan tidak mampu dilihatnya. Yang paling parah jika hal ini menyebabkan si pesakit lantas menganggap kebenaran sebagai kebathilan, dan sebaliknya, meyakini kebathilan sebagai kebenaran. Seperti mereka yang termakan tipu muslihat Dajjal, melihat air sebagai api, dan api disangka air.

Meskipun sangat berbahaya dan dapat berakibat fatal, kanker epistemologis sebenarnya bukan mustahil untuk ditanggulangi. Terapi yang paling efektif adalah dengan menyuntikkan ilmu yang bermanfaat ke dalam diri kita. Ilmu yang mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Ilmu yang menuntun kita kepada kebenaran. Ilmu yang dengannya kita dapat melihat yang benar itu benar, dan yang palsu itu palsu. Ilmu yang memberikan kita kriteria dan neraca untuk mengukur dan menimbang, menilai dan memutuskan, memisah dan membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Ilmu tersebut adalah ilmu para Nabi, yang perlahan-lahan mulai berkurang, dan kelak sama-sekali hilang saat kiamat menjelang.

Di era globalisasi seperti sekarang ini, ide dan pemikiran telah menjadi komoditi yang bebas dipasarkan dan dijual di mana-mana. Terserah dan terpulang kepada konsumen mau membeli produk pemikiran jenis apa, karena alasan dan untuk tujuan apa. Namun justru disinilah diperlukan kecerdasan dan ketelitian dalam memilah dan memilih sebelum mengkonsumsi suatu gagasan atau pemikiran. Jangan asal beli. Berhati-hatilah terhadap pelbagai modus penipuan dan penyesatan.
Penulis teringat sebuah ungkapan bijak yang mengatakan bahwa manusia itu ada empat macam. Pertama, mereka yang tahu bahwa dirinya tahu. Yang ini patut dipercaya dan diikuti. Sebagaimana disinyalir dalam al-Qur’an: ula’ika l-ladzina hadallah, fa-bihudahum iqtadih! (al-An’am 90). Kedua, mereka yang tidak tahu bahwa dirinya tahu. Yang seperti ini harus diingatkan dan disadarkan dulu sebelum diikuti. Ketiga, mereka yang tahu bahwa dirinya tak tahu. Yang semacam ini perlu dibimbing dan ditunjukkan. Keempat, mereka yang tak tahu bahwa dirinya tak tahu. Yang model begini tidak perlu dilayani, karena cenderung ngeyel (merasa tahu tetapi tidak tahu merasa). Kepada golongan ini kita disarankan cukup berkata: salamun ‘alaykum la nabtaghi l-jahilin (al-Qashash 55).

*) Penulis adalah peneliti INSISTS. Kini sedang mengambil program doktoralnya yang kedua di Frankfurt, Jerman
komentar | | Read More...

Deklarasi Dan Raker LSI Psikologi Unnes

Penulis : LSI Crew on Senin, 07 April 2014 | Senin, April 07, 2014

Senin, 07 April 2014

          Minggu, 23 Maret 2014 merupakan momen istimewa bagi Lingkar Studi Islam Psikologi Unnes, pasalnya pada tanggal tersebut Lingkar Studi Islam Psikologi Unnes mengadakan Deklarasi serta pelantikan pengurus untuk kali pertamanya dan pada hari itu pula diadakan rapat kerja guna membahas program kerja untuk satu tahun kepengurusan kedepan.
          LSI Psikologi Unnes merupakan kelompok studi yang mengkaji psikologi islami yang bertempatkan di Psikologi Unnes. LSI Psikologi Unnes merupakan bagian dari Imamupsi (Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi) wilayah tiga, yaitu Jogja dan Iawa Tengah.
          Acara ini dihadiri selain dari pengurus LSI sendiri, dihadiri pula tamu undangan yaitu beberapa lembaga kerohanian islam lain di Universitas Negeri Semarang serta kelompok studi pengembangan psikologi islam (kisppi) Universitas Diponegoro.
          "Saat ini adalah dimana Islam mampu menaklukan ilmu psikologi, bukan lagi islam yang mengikuti dan menyesuaikan dengan psikologi tetapi psikologi lah yang menyesuaikan alquran dan assunah" inilah yang dikatakan ketua panitia yang tidak lain adalah Yoga Ekatama mahasiswa psikologi unnes 2011 saat memberikan sambutanya. Itu juga yang akan menjadi harapan LSI Psikologi Unnes kedepanya.
          Silsislia Hikmawati yang sering dipanggil Kak Lia mahasiswi Psikologi 09 selaku pemberi pengantar pada acara siang hari itu menegaskan, bahwasanya kita sebagai orang yang beriman haruslah menerapkanya dimanapuk kita berada, termasuk halnya di psikologi. Peperti pada kutipan pitatonya berikut : "kenapa psikologi harus kita kaji dalam perspektif islam, karena memeng kita sendiri adalah orang muslim."

oleh : Inam
komentar | | Read More...

Emosi Negatif di Sekitar Kita: Marah

Penulis : maama on Minggu, 06 April 2014 | Minggu, April 06, 2014

Minggu, 06 April 2014


Seperti apakah marah?
Di antara semua situasi hati yang ingin dijauhi orang, amarah merupakan jenis ledakan emosi yang sukar di ajak kompromi. Berbeda dengan bentuk emosi negative seperti kesedihan dan depresi yang membuat pelakunya menarik diri. Amarah menimbulkan semangat, terasa “menggairahkan”, memberi dorongan yang kuat bagi pelakunya untuk melampiaskannya. Amarah dapat tampil dalam bentuk beragam dengan pola yang semuanya berifat destruktif: mengamuk, beringas, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, berang, tersinggung, bermusuhan, hingga tingkat ekstremnya kekerasan dan kebencian patologis.
komentar | | Read More...

Undangan Upgrading Pengurus LSI Psikologi Unnes

Penulis : LSI Crew on Sabtu, 05 April 2014 | Sabtu, April 05, 2014

Sabtu, 05 April 2014

Assalaamu'alaikum Wr. Wb.

Diberitahukan kepada semua pengurus LSI Psikologi Unnes 2014, Upgrading pengurus bertema "Menjadi Cerdas dengan Jalan Rosulullah" akan diadakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 12 April 2014
Pukul : 06.30-10.30
Tempat : Halaman depan Rektorat Unnes
Acara ini bertujuan untuk mensolitkan satu sama lain antar pengurus dan diharapkan semua pengurus LSI Psikologi Unnes dapat menghadiri acara tersebut. Info lebih lanjut akan diberitahukan segera.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Sekian dan Trimakasih.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.



Departemen PSDM LSI Psikologi Unnes 2014
komentar | | Read More...

Psikologi Islami Misi Membawa Rahmat

Penulis : LSI Crew on Kamis, 03 April 2014 | Kamis, April 03, 2014

Kamis, 03 April 2014



         Psikologi islam mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 2000, dimana psikologi Positif & Psikologi Religius sudah Berkembang pesat di Barat. Sejak tahun1984 WHO sudah menambahkan lagi aspek Kesehatan Manusia menurut WHO menjadi empat, yaitu Neurobiologi, Psikologi, Sosiologi dan Religius (Bio-Psiko-Sosio-Religius). Seiring berjalanya waktu Barat mulai mengembangkan Psikoreligius, sehingga pada tahun 1994 oleh APA(American Psychology Asociation).
         “Medis Tanpa Psikoreligius tidaklah lengkap, tapi Psikoreligius saja tanpa medis tidaklah efektif”(Sneyderman) Ini menjadikan prof. Dr. Dadang Hawari  psikiater menggunakan aspek Psikolreligius sebagai pendekatan dalam mengobati pasienya. Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. (Q.S Yunus ; 57)
Dalam ayat diatas menjelaskan bahwa Patologi dalam kejiwaan manusia Al-Quranlah penyembuh segala sesuatu yang tersembunyi dalam dada (Emosi) manusia dengan Firman Allah SWT. Karena manusia pada hakekatnya dekat dengan Allah jaraknya sedekat nadi di leher.
          Sejak runtuhnya peradaban emas islam di Mesir saat kaum cendekiawan muslim menghasilkan karya dan penemuan yang berkontribusi dalam kemajuan ilmu pengetahuan saat ini. Meski dulu sudah redup, Sekarang kitalah sebagai kaum ilmuwan muslim di dunia mulai menghimpun dalam mengislamisasi ilmu dengan berdasar Al-Quran dan As- Sunah shahih sebagai petunjuk bagi umat islam. Kita sebagai Pemuda Muslim harusnya turut berkontribusi dengan menyumbangkan berbagai karya, dan tidak serta merta menelan mentah ilmu barat begitu saja, karena mereka hanya berdasarkan hasil renungan, maupun filosof barat yang tidak pernah berdasarkan kedua pegangan kita.
         Munculnya Psikologi Islam di Universitas Islam Abad membawa cahaya baru bagi ilmuwan psikologi, dengan pidato dari Al Faruqi dimana memberikan cendekia muslim untuk mengislamisasi ilmu. Dimana menurut Jamaludin Anchok; (1) Psikologi akan membantu menyelesaikan permassalahan umat islam (2) dan islam akan mengasah ilmu psikologi. Jadi Islam tidak serta merta disekulerkan, melainkan Psikologi dan islam berdampingan dalam menyelesaikan permasalahan Patologi Sosial, maupun lainya. Islam Adalah Rahmat bagi seluruh Alam. Islam adalah segala solusi dalm kehidupan kita Karena sebagian besar manusia adalah makhluk yang beragama, Jadi logis mejadikan psikologi berdampingan denga Islam.

Daftar Pustaka:
Hawari, Dadang. 2003. Dimensi Religi dalam Psikiater dan Psikolog. Jakarta: UI Press
Anchok, Jamaluddin. 2011. Psikologi Islami. Jogjakarta: Pustaka Pelajar


 

komentar | | Read More...

kalender

Popular posts

Blogroll

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger